Ketika aku
berdiri, aku berharap kakiku kuat menopang . Pertengkaran itu membuatku merasa
bersalah . entah kenapa aku merasa takut, takut kehilangan. Berbanding lurus
dengan perkataanmu yang menegaskan bahwa ketakutanku justru akan menjadi
sugesti “kamu akan meninggalkan aku”. Dadaku penuh sesak. Aku mencoba hiraukan
ketika kamu berkata “berakhir”. Aku mencoba menghadang tetesan air mata ini
mengalir, senyumku kulepaskan . Aku
bohong, hati ini berdusta. Sejujurnya aku ingin menangis, sejujurnya dadaku tak
sanggup menahan sesak tapi aku tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Mataku
tak bisa terpejam . 4, 5, 6, 7 jam hingga pagi, mata ini masih terbuka .
Pikiran ini masih tertuju kepada satu, “kamu”. Tanganku menengadah, meminta
kepada tuhan. Karna psikiater paling ampuh adalah tuhan. Aku mencoba tegar.
Karna memiliki perasaan seperti ini bukan pertama kali buatku. Aku pernah
merasakan perasaan yang sama, sakit yang sama dan sesak yang hampir sama. Hanya
saja aku ragu apa caraku mengobatinya akan sama. Apakah obat dari luka basah
itu bernama kehilangan ?. Mengapa kehilangan itu sakit, karna ketika kita
kehilangan seseorang, tanpa kita sadari separuh hati kita terbawa hilang
olehnya. Luka yang basah akan kering, tapi pasti akan berbekas. Aku hanya bisa
berharap, hatiku mulai lelah merasakan sakitnya. Suatu saat aku yakin kamu akan
mengerti. Mengerti apa itu kehilangan, apa itu sakit dan apa itu cinta. Tuhan
masih memberimu celah untuk bersenang-senang. Kamu hanya butuh belajar, belajar
menghargai cinta. Terlalu muluk mungkin buatmu membicarakan cinta. Kamu tak
pernah peduli. Aku tak pernah
berharap kamu tahu, bahwa tiap tetes air mataku adalah tentang kamu. Aku tak
pernah berharap kamu mengerti bahwa disetiap doaku terselip namamu. Aku hanya
berharap kamu percaya bahwa aku mencintaimu.
No comments:
Post a Comment